Perbedaan Cairan Radiator Coolant vs Air Biasa yang Harus Diketahui

Fijimatai – Radiator coolant merupakan salah satu elemen penting untuk mendinginkan mesin sehingga perlu diganti secara berkala untuk menghindari penurunan kemampuan mengikat panas dan menghindari korosi. Sebaiknya, gunakan radiator coolant yang memang dikhususkan untuk mobil dan jangan mengisi dengan air biasa.

Bila proses penggantian tidak sempurna, otomatis akan terjadi reaksi kimia yang mungkin berdampak pada penyumbatan sistem. Anda yang berniat untuk menggunakan air biasa sebaiknya simak artikel ini yang akan membahas tentang radiator coolant vs air biasa.

Cairan Radiator Coolant vs Air Biasa

Radiator coolant vs air biasa

1. Kinerja

Banyak sekali pengguna mobil yang menggunakan air biasa untuk mendinginkan mesin karena tidak memerlukan biaya mahal dan juga sangat mudah didapatkan. Tinggal diambil dari rumah dan diisi ke mobil. Air biasa memang bisa digunakan namun sebenarnya air biasa berbeda dengan radiator coolant. Kinerja air biasa tidak seefektif radiator coolant dalam mendinginkan mesin mobil.

Radiator coolant merupakan cairan khusus untuk mobil yang dapat menyerap panas, menjaga suhu ruang bakar mobil, menahan korosi pada bagian dalam material silinder blok mesin, dan mencegah karat pada mesin. Radiator coolant memiliki 4 keunggulan utama yaitu cairan tanpa kandungan mineral, zat propylene glycol, zat anti karat, dan zat anti beku.

2. Titik didih dan titik beku

Perbedaan radiator coolant dan air biasa juga terletak pada titik didihnya. Radiator coolant memiliki titik didih tinggi dan titik beku rendah sehingga radiator coolant dapat terhindar dari penguapan karena mesin mobil yang panas. Sebaliknya air biasa memiliki titik didih yang lebih rendah dibandingkan titik didih coolant radiator dan juga memiliki kandungan mineral yang dapat membuat mesin mobil berkarat.

3. Warna

Kelebihan menggunakan radiator coolant daripada menggunakan air biasa adalah mendeteksi kebocoran pada radiator dengan lebih mudah. Hal ini dikarenakan radiator coolant terdiri dari warna hijau dan merah. Artinya jika anda menemukan terdapat cairan berwarna merah dan hijau pada tutup radiator, sirip radiator, atau pada area saluran karet sistem pendinginan maka bisa dipastikan bahwa radiator mengalami kebocoran.

Apabila anda mengisinya dengan air biasa dan terjadi kebocoran, anda tidak bisa memastikan letak kebocoran berasal dari mana karena warnanya yang bening. Untuk menghindari hal ini maka sebaiknya anda menggunakan radiator coolant untuk mempermudah anda.

Selain air biasa, ada juga yang mengatakan bahwa air kondensasi seperti air bekas AC mobil dapat dijadikan sebagai cairan radiator namun sama seperti air biasa, air kondensasi juga tidak dapat menahan panas seperti radiator coolant. Air kondensasi juga memiliki titik didih rendah sehingga tidak efektif untuk mendinginkan mesin.

Air radiator juga dapat menyusut karena adanya kebocoran pada area gasket dan packing silinder sedangkan ruang silinder dan silinder head memerlukan penyekat karena bersentuhan dengan cairan pendingin.

Kemungkinan packing silinder tidak lagi berfungsi dengan baik sehingga bisa membuat cairan radiator bisa bercampur pada oli mesin. Dalam keadaan ini, oli mesin bisa terkena dampak dari cairan pendingin yang tidak berkualitas sehingga mengganggu sistem pelumasan yang dapat menyebabkan mobil jadi overheat.

Setelah membaca perbedaan radiator cooler vs air biasa, sudah dipastikan bahwa penggunaan radiator cooler lebih baik daripada menggunakan air biasa dan air kondensasi karena faktor-faktor di atas. Untuk mendapatkan radiator cooler terbaik anda bisa membelinya di www.autochem.id. Autochem menyediakan radiator cooler untuk mobil dan juga untuk motor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *